Sunday, November 8 2026
Berilmu dan Beramal
  • PENGURUS
  • SAMBUTAN KETUA
  • SEJARAH
  • KONTAK
  • LEGALITAS
  • MISI, VISI & LOGO
  • BERITA
  • PENDIDIKAN
  • SANTUNAN
  • DONASI
  • MOTIVASI
  • INSPIRASI
  • PUBLIKASI
  • TRAINING CENTER
    • PENAWARAN
    • KEGIATAN
    • AGENDA
  • KREATIVITAS
    • CERPEN
    • PUISI
  • MATERI DAKWAH
  • PROFILE
  • BERITA
  • PENDIDIKAN
  • SANTUNAN
  • DONASI
  • MOTIVASI
  • INSPIRASI
  • PUBLIKASI
  • TRAINING CENTER
    • PENAWARAN
    • KEGIATAN
    • AGENDA
  • KREATIVITAS
    • CERPEN
    • PUISI
  • MATERI DAKWAH
  • PROFILE
Berilmu dan Beramal
No Result
View All Result

OM TELOLET OM: KELATAHAN ERA MEDSOS

20/10/2019
in MOTIVASI
A A
ShareTweetSendScan

Beberapa hari terkahir semua orang keranjingan menirukan bunyi klakson bis ‘telolet’. Ada tidak ada bis yang lewat, semua seakan teriak “Om Telolet Om”. Dunia media social menjadi hiruk-pikuk dengan bunyi itu. Saling bersahutan satu sama lain. Tiba-tiba saja suara klakson bis yang biasa di dengar menjadi laur biasa dan fenomenal. Inilah fenomena ‘telolet’.

Saya menyebutnya ini sebuah kelatahan sosial di media sosial. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI versi Daring) mengartikan kata ‘Latah’:  1. menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; 2. berlaku seperti orang gila (misalnya karena kematian orang yang dikasihi); 3. meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain. Dengan fenomena menirukan bunyi klakson bis ‘telolet’, agaknya definisi latah nomor 1 pas untuk diambil. Artinya, masyarakat media social saat ini sedang ‘sakit saraf.’

Artikel Terkait

PEMILIHAN REKTOR UIN STS JAMBI: Saatnya Menjadi Akademisi Sejati

27/07/2023

ANDA JUGA KORBAN NARKOBA: FENOMENA GUNUNG ES

26/10/2021

COVID 19: SAATNYA INGAT MATI

04/08/2021

NILAI-NILAI QURBAN

04/08/2021

Penulis sekelas Robert L. Winzeler bahkan pernah menulis  “Latah in South-East Asia: the History and Ethnography of a Culture-Bound Syndrome”.  Menariknya, Robert menyatakan bahwa ‘penyakit’ ini hanya dimiliki oleh penduduk Asia, terutama Asia Tenggara. Orang Barat tidak memiliki syndrome ini. Jika begitu kelatahan ‘telolet’ sungguh sangat luar biasa karena boleh jadi akan menghancurkan teori Robert ini sebab orang Barat saat ini juga sudah ikut-ikutan latah ‘om telolet om’.

Latah ‘telolet’ manjadi sangat masif ketika beberapa DJ dunia berkicau ‘Om Telolet Om’ di media social mereka. Beberapa berita online merilis nama-nama Disc Jokey (DJ) dunia yang ikut-ikutan latah ‘Om Telolet Om’ di antaranya DJ Snale, Yellow Claw, Marshmello, Zedd, dan The Chainsmokers. Tidak tanggung-tanggung twitan para artis dunia ini menyebar seantaro dunia karena mereka mimiliki jutaan pengikut (followers). Jadilah ‘om telolet om’ tranding topic yang mendunia.

Terlepas dari ‘kelatahan’ social yang terjadi, paling tidak saya bisa memberikan catatan mengenai fenomena ini. Pertama, orang Indonesia kaya kreativitas.  Di seluruh dunia suara klakson kendaraan bermotor telah memiliki standar sendiri. Dengan standar ini maka klakson akan mengeluarkan suara yang sama. Agaknya inilah yang mendorong kreativitas orang Indonesia untuk membuat sesuatu yang berbeda. Hasilnya ‘telolet’. Kreativitas semacam ini sesungguhnya tidak hanya terjadi pada suara klakson tapi juga bisa ditemui pada dinding bak truk. Kita akan menemukan berbagai gambar dan tulisan yang penuh kreativitas. Suatu saat nanti akan ada bak truk yang menjadi tranding topic dunia.

Kedua, budaya klakson. Jika anda pernah berkunjung ke beberapa Negara maju baik di Asia maupun di Eropa, agak susah mendengar suara klakson. Di Negara-negara tersebut, membunyikan klakson merupakan ketabuan. Klakson merupakan cara terakhir untuk memberikan peringatan kepada pengguna jalan lainnya. Namun di negeri ini, klakson menjadi budaya yang ‘memekakkan’.

Ketiga, strategi marketing. Jangan salah, suara klakson yang mendunia tersebut sesungguhnya merupakan salah satu strategi marketing untuk menarik perhatian calon penumpang. Di Indonesia tidak semua penumpang bis naik di terminal. Sebagaian besar naik di pinggir jalan. Nah, untuk menarik perhatian calon penumpang yang sedang menunggu di pinggir jalan, perusahaan bis memodivikasi suara klokson yang khas dan menarik perhatian. Itulah mengapa tidak ada mobil pribadi yang menggunakan klakson ‘telolet’. Tapi agaknya tidak lama lagi travel ke dusun saya akan menggunakan klakson ‘telolet’, hehehe.

Inilah catatan saya melihat fenomena ‘om telolet om’ yang sedang booming saat ini. Apa pun itu, inilah fenomena media social. Inlah kelatahan para penduduk dunia maya. ‘Om telolet Om’….

Next Post

KETIKA JAMBI DIUSIK PENISTA AGAMA

KOK DIUCAPIN SELAMAT? TEGA SEKALI

KORUPTOR ITU PENGECUT..!

Discussion about this post

About Me

Horrison Rose

Passionate Blogger

Hello & welcome to my blog! My name is Mocha Rose and I'm a 20-year-old independent blogger with a passion for sharing about fashion and lifestyle.

Instagram

    Please install/update and activate JNews Instagram plugin.

Popular

Jambi kehilangan Tokoh Kharismatik.

3 years ago

IDUL FITRI: Kembali Menyatu Pasca Pemilu

3 years ago

HARI GINI MASIH ABS?: BANGUNLAH ‘SUPER TEAM’

3 years ago

Tanggapan Pers:

3 years ago
Berilmu dan Beramal

© 2019 Yaqin - Komplek Bahri Makmur Blok J, No 6, RT 22/03, Jaluko – Muaro Jambi – Jambi – Indonesia. Kode Pos 36361. Developed by Ara.

  • Disclaimer
  • Kontak
  • Legalitas
  • Misi, Misi & Logo
  • Pedoman
  • Pengurus
  • Sambutan Ketua
  • Sejarah

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • BERITA
  • PENDIDIKAN
  • SANTUNAN
  • DONASI
  • MOTIVASI
  • INSPIRASI
  • PUBLIKASI
  • TRAINING CENTER
    • PENAWARAN
    • KEGIATAN
    • AGENDA
  • KREATIVITAS
    • CERPEN
    • PUISI
  • MATERI DAKWAH
  • PROFILE