Saturday, October 31 2026
Berilmu dan Beramal
  • PENGURUS
  • SAMBUTAN KETUA
  • SEJARAH
  • KONTAK
  • LEGALITAS
  • MISI, VISI & LOGO
  • BERITA
  • PENDIDIKAN
  • SANTUNAN
  • DONASI
  • MOTIVASI
  • INSPIRASI
  • PUBLIKASI
  • TRAINING CENTER
    • PENAWARAN
    • KEGIATAN
    • AGENDA
  • KREATIVITAS
    • CERPEN
    • PUISI
  • MATERI DAKWAH
  • PROFILE
  • BERITA
  • PENDIDIKAN
  • SANTUNAN
  • DONASI
  • MOTIVASI
  • INSPIRASI
  • PUBLIKASI
  • TRAINING CENTER
    • PENAWARAN
    • KEGIATAN
    • AGENDA
  • KREATIVITAS
    • CERPEN
    • PUISI
  • MATERI DAKWAH
  • PROFILE
Berilmu dan Beramal
No Result
View All Result

MENYEDERHANAKAN PERAYAAN IDUL FITRI

27/06/2017
in MOTIVASI
A A
ShareTweetSendScan

Artikel Terkait

PEMILIHAN REKTOR UIN STS JAMBI: Saatnya Menjadi Akademisi Sejati

27/07/2023

ANDA JUGA KORBAN NARKOBA: FENOMENA GUNUNG ES

26/10/2021

COVID 19: SAATNYA INGAT MATI

04/08/2021

NILAI-NILAI QURBAN

04/08/2021

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Nilai dan maknanya harus diistimewakan tapi perayaannya sebisa mungkin dilaksanakan dengan cara-cara yang sederhana. Disadari atau tidak, ada prilaku yang kontradiktif antara ‘pendidikan’ selama Ramadhan dengan perayaan Idul Fitri. Di bulan suci Ramadhan diajarkan untuk merasakan tidak enaknya lapar dan dahaga, ketika Idul Fitri ‘jor-joran’ tak terbendung. Seolah-olah pendidikan Ramadhan tak berbekas sama sekali.

Salah satu inti penting pelajaran yang diambil dari Ramadhan adalah hidup secar sederhana. Ummat muslim diingatkan bahwa mereka harus mampu menahan hawa nafsu. Jangankan dari yang haram, yang halal pun pada siang hari harus dihindari. Makanan dan minuman yang tersedia di meja makan anda sesungguhnya halal, tapi tidak boleh disantap di siang hari.

Pengajaran ini harusnya menjadi benteng yang kokoh untuk melawan godaan hawa nafsu di bulan-bulan berikutnya. Tapi faktanya tidak demikian. Lihat saja perayaan Idul Fitri yang dipersiapkan. Jauh dari nilai-nilai kesederhanaan. Sebagaian dari kita menjadi konsumtif, boros dan cenderung mubazir. Hal ini dapat dilihat dari pakaian hingga makanan dan minuman yang disiapkan.

Contoh kecil saja, masing-masing keluarga saat ini menyiapkan minuman kaleng berbagai merek. Coba perhatikan dengan cara saksama, minuman-minuman yang disuguhkan itu tidak pernah benar-benar diminum satu kaleng per orang. Sebagian besar bersisa dan dibuang. Berapa banyak minuman yang kemudian terbuang begitu saja. Bukankah kegiatan mubazir itu sahabatnya setan? Al-Quran menegaskan, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudaranya setan dan sesungguhnya setan itu sangat ingkar kepada tuhannya.” (QS Al Isra : 27).

Hayo, mengapa setelah sebulan penuh ikut ‘training’ untuk patuh dan tunduk pada Allah, ketika keluar malah menghamba pada setan yang jelas-jelas ingkar pada tuhannya.

Begitu juga dengan makanan-makanan yang disediakan. Sebagian besar makanan-makanan itu bukan lagi untuk kebutuhan tetapi sudah masuk wilayah gengsi dan prestise. Makanan atau kue-kue yang terhidang di atas meja menjadi simbol-simbol kesombongan. Melalui kue yang terpajang di dalam toples, orang akan memberikan penilaian terhadap si empunya rumah. Semakin mahal kue yang disediakan semakin bergengsi pula si empunya rumah.

Hal yang sama juga terjadi pada pakain yang dikenakan pada saat berhari raya. Memang Rosulullah megisyaratkan kepada ummatnya untuk mengenakan pakaian terbaik mereka untuk menyambut dan merayakan hari kemenangan Idul Fitri. Tapi bukan berarti pula harus berlebihan. Bahkan Rosul melarang kaum pria untuk mengenakan sutra. Sekali lagi, yang diingatkan oleh Rosul adalah prilaku yang berlebih-lebihan.

Maka pada konteks ini, makna perayaan kemenangan itu sesungguhnya tidak semata-mata nampak dari hal-hal yang sifatnya fisik, tetapi kondisi mental (spiritual). Pemenang sejati yang merayakan Idul Fitri itu adalah jiwa-jiwa yang telah berhasil mengalahkan berbagai bentuk ‘kejahatan’ nafsu manusia dengan memperkecil porsi kecintaan pada dunia dan berorientasi akhirat. Itu artinya, jika perayaan Idul Fitri dilakukan dengan mengikuti hawa nafsu duniawi, itu sama saja merayakan kegagalan.

Dengan konsep kesederhanaan ini pula kita semua akan dapat merayakan kemenangan Idul Fitri itu dengan penuh hikmat dan bermakna. Merayakan idul Fitri tidak seharusnya mengabaikan nilai-nilai yang telah ditempa oleh Ramadahan. Jiwa-jiwa yang telah bersih disucikan saat ramadhan tidak sepantasnya dikotori dengan nilai-nilai kesombongan dan keangkuhan.

Akhirnya, makna kemenangan Idul Fitri adalah terbentuknya jiwa-jiwa yang suci dan menghamba hanya kepada Allah. Perayaan yang dilakukan secara berlebihan hanya akan membentuk mendatangkan sifat-sifat riya, sum’ah, ujub dan takabur. Jika ini yang terjadi, maka sia-sialah pendidikan ramahadhan yang berlalu. Maka dari itu, mari kita rayakan kemenangan ini dengan nilai-nilai keserhanaan oleh jiwa-jiwa yang suci dan istimewa.

#BNODOC17323062017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi

Next Post

SALAM PAMUNGKAS

CERPEN: SORBAN PERTAMA

TAKBIRMU UNTUKMU

Discussion about this post

About Me

Horrison Rose

Passionate Blogger

Hello & welcome to my blog! My name is Mocha Rose and I'm a 20-year-old independent blogger with a passion for sharing about fashion and lifestyle.

Instagram

    Please install/update and activate JNews Instagram plugin.

Popular

Jambi kehilangan Tokoh Kharismatik.

3 years ago

IDUL FITRI: Kembali Menyatu Pasca Pemilu

3 years ago

HARI GINI MASIH ABS?: BANGUNLAH ‘SUPER TEAM’

3 years ago

Tanggapan Pers:

3 years ago
Berilmu dan Beramal

© 2019 Yaqin - Komplek Bahri Makmur Blok J, No 6, RT 22/03, Jaluko – Muaro Jambi – Jambi – Indonesia. Kode Pos 36361. Developed by Ara.

  • Disclaimer
  • Kontak
  • Legalitas
  • Misi, Misi & Logo
  • Pedoman
  • Pengurus
  • Sambutan Ketua
  • Sejarah

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • BERITA
  • PENDIDIKAN
  • SANTUNAN
  • DONASI
  • MOTIVASI
  • INSPIRASI
  • PUBLIKASI
  • TRAINING CENTER
    • PENAWARAN
    • KEGIATAN
    • AGENDA
  • KREATIVITAS
    • CERPEN
    • PUISI
  • MATERI DAKWAH
  • PROFILE